Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2014

KERJASAMA BILATERAL MENINGKATKAN ETOS KERJA HIMAPRODI



 
Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (HMJ BAHTERA) Muhammad Rifa’ie (kiri), menerima penghargaan Parade Monolong Pekan Bahasa dan Sastra Indonesia 2014 dari M Wahidul Mashuri Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (HMP BAHTRA INDONESIA) STKIP PGRI Jombang. Di sekretariat HMP BAHTRA (07/06/14).
Usai penutupan pekan bahasa dan sastra Indonesia 2014 yang berlangsung di Aula gedung B kampus PGRI Jombang, Sabtu malam, M Wahidatul Mashuri memberikan penghargaan terhadap ketua HMJ BAHTERA UMM Muhammad Rifaie. Pada malam penutupan pekan bahasa tersebut HMJ BAHTERA menampilkan monolog karya Putu Wijaya yang berjudul kemerdekaan.
Monolog yang langsung disutradarai Muhammad Rifa’ie itu menuai sukses, penonton tak henti-hentinya berdecak kagum menyaksikan M Syahrir Mustafa sebagai lakon kakek tampil dengan sempurna di atas panggung.
Adakala penonton dibuat tertawa dengan improvisasi aktor sosok kakek yang terjatuh berkali-kali dari kursi karena tak sanggup meraih sangkar burung , namun terkadang aktor pun membawa penonton dalam suasana haru dan menyedihkan, yaitu ketika sang kakek menyesal karena telah membunuh burung perkututnya yang setia. Dan sejenak penontot dibawa dalam suasana mencekam ketika burung perkutut terjepit ketakutan di balik siluet.
"Saya sudah beberapa kali menonton monolog kemerdekaan karya Putu Wijaya, namun baru malam ini saya lihat pertujukan naskahnya yang bagus ," kata Adi Pratama selaku penonton malam parade monolog.
Di balik kesuksesan pementasan, ternyata persiapan pementasan tidak dilakukan sangat matang ucap Syahrir Mustafa karena terkendala di bagian aktor, aktor yang terpilih sebelumnya adalah Rudy Hartono, namun karena Saudara Rudy sedang ada kendala, maka sutradara menunjuk Syahrir sebagai pemeran kakek.
Selain masalah aktor, juga mendapat kendala kekurangan personel, untuk mengisi ilustrasi dan musik. Sehingga musik dan ilustrasi hanya menggunakan sruling, gitar, dan gendang ucap Fuad Hamdani selaku koordinator bagian ilustarsi pada pementasan malam itu.
Pementasan di luar kampus ini adalah pengalaman perdana bagi HMJ BAHTERA UMM, diharapkan periode selanjutnya HMJ BAHTERA lebih meningkatkan kerjasama bilateral dengan institusi-istitusi ekstra kampus yang fungsinya memperbanyak hubungan kerjasama dalam hal apa pun, khususnya kerjasama dalam hal program kerja.
Selain berfungsi menambah wawasan itu pun akan berdampak positif bagi HMJ masing-masing, karena dengan begitu masing-masing HMJ bisa dapat mengambil suatu pelajaran terkait kultur masing-masing HMJ, maupun informasi terkait isu-isu kebahasaan dan kesusastraan regional maupun Nasional.
M Wahidul Mashuri mengatakan kerjasama lintas HMJ selayaknya terus berlangsung dan dijaga dengan harmonis, agar ikatan persaudaraan semakin erat dalam mengemban amanah sebagai HMJ yang sama-sama memiliki latar belakang Bahasa dan Sastra Indonesia.
Harapannya Himpunan Mahasaiswa Jurusan tidak selalu berdiam diri dalam kampus masing-masing, alangkah lebih baiknya jika tiap-tiap HMJ selalu aktif melakukan aliansi dengan HMJ yang lain, karena semakin besar pergerakan maka akan menghasilkan tujuan besar pula dalam hal pergerakan bahasa dan sastra Indonesia dalam wilayah kesatuan Republik Indonesia.

Minggu, 02 Maret 2014

Minimnya Tayangan Televisi Yang Mendidik Bagi Anak



Oleh: Ningtias Wulandari
            Pada dewasa ini kebutuhan masyarakat akan tekhnologi untuk memperoleh informasi semakin pesat, salah satu dari tekhnologi tersebut adalah televisi. Melalui tayangan-tayangan televisi masyarakat dapat mengetahui berbagai informasi baik dari dalam maupun dari luar negeri, selain itu melalui tayangan televisi pula masyarakat mendapatkan hiburan melalui tayangan yang berupa konser musik, acara-acara yang memotivasi, film ataupun sinetron dan masih banyak lagi tayangan-tayangan hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat melalu itelevisi.
            Melihat peran dari tayangan televisi yang begitu besar, maka tidak berlebihan ketika tayangan televisi dikatakan sebagai salah satu sumber pendidikan tambahan bagi anak-anak terutama bagi remaja yang tingkat emosinya masih terbilang labil.Namun pada kenyataannya jika dilihat dari apa yang terjadi, tayangan-tayangan televisi di Indonesia masih sangat jauh  dari fungsinya sebagai salah satu sumber pendidikan tambahan bagi anak terlebih bagi pendidikan moral anak. Pada akhir-akhir ini beberapa tayangan televisi banyak mengangkat tentang kehidupan remaja seperti gaya hidup anak sekolah, gaya berpacaran anak remaja, pernikahan di bawah umur, film horor bertemakan remaja dan masih banyak jenis tayangan lainnya.
            Dari beberapa jenis tayangan tersebut yang sangat mencengangkan adalah dalam tayangan-tayangan tersebut terdapat unsur pornografi yang secara sengaja diselipkan oleh pihak yang berwenang di dalamnya untuk menaikan rating dari tayangan tersebut, yang seharusnya melalui tayangan televisi anak dapat memperoleh pendidikan tambahan malah berbanding terbalik dengan kenyataan karena anak-anak akan dipertontonkan dengan tayangan yang tidak sepantasnya menjadi konsumsi anak. Hal demikian juga diperkuat dengan jam penayangan yang tidak memperhatikan waktu belajar anak sehingga dapat mengganggu konsentrasi belajar anak yang telah terlanjur menikmati tayangan-tayangan tersebut.
Prosentase menunjukan bahwa hanya terdapat sekitar 30% saja tayangan televisi yang berperan sebagai pendidikan tambahan bagi anak. Dari 30% tersebut tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh anak karena waktu penayangannya bertepatan dengan waktu anak-anak belajar ataupun pada waktu anak istirahat, salah satu contoh tayangan acara “Dunia Binatang” di Trans7 yang ditayangkan pada saat waktu tidur siang anak. Selebihnya dari 30% tersebut tayangan televisi banyak memberi pengaruh negative bagi perkembangan moral anak.
Dari uraian di atas menunjukan bahwa tayangan televisi yang seharusnya dapat menjadi salah satu sumber pendidikan tambahan bagi anak tidak berperan semestinya. Dalam hal ini semua pihak ikut bertanggung jawab mulai dari pemerintah yang memegang kendali penayangan melalui pihak sensor terlebih peran orang tua dalam mengarahkan tayangan yang mendidik bagi anak. Hal tersebut juga berperan dalam menentukan karakter anak bangsa yang kian tidak terarah, sehingga pemerintahpun tidak harus merubah kurikulum disetiap periodehanya untuk mencari solusi dalam memperbaiki karakter anak bangsa.