Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

Tengah Malam





Bulan cermin malam, bintang pelita gulita. Terisi dalam toples kemunafikan. Samar-samar antara aku dan kamu, antara kenduri jadi duri. Oh...sembiluan daku, hiruk-pikuk roh bernyawa, boyongi monofobia malam. Analogi jiwa tak mungkin, resah teraduk memimpin. Glosarium tanpa kata, memuat makna tanpa abjad. Oh...bulan masihkah jadi bulan? Bintang masihkah jadi bintang?
Pertanyaan itu terus mengusik malamku.
“Wahai jiwa yang dipenuhi cinta, berhentilah menghantuiku!”, teriakku disaksikan bulan dan bintang yang tetap membisu, disokongi rumput-rumput yang anestesi akan keresahan yang menderu.
“Kenapa kau masih terus memanggilku Mas’ud?”. Tiba-tiba muncul suara yang berdengung dari langit, dengan wajah yang samar-samar tapi sepertinya aku kenal suara itu.
“Apa? Kau masih bertanya, kenapa aku memanggilmu?”, jawabku sinis. “Berjuta huruf, kata dan kalimat aku lontarkan, kau masih saja bertanya kenapa aku masih memanggilmu?”
            “Kau tetap saja seperti ini Mas’ud. Janganlah kau menghakimiku dengan ilusimu yang berlebihan itu”, ucapnya entah dengan nada sindiran atau nada untuk menyadarkanku.
            “Tahu apa kau tentang perasaanku, hah?”, aku coba mengelak.
”Kau hanya mahluk yang punya jiwa tapi tak berbentuk!”
            “Kau belum juga berubah. Aku ini perasaanmu yang terus menderu itu. Aku tak tahan dengan keresahan jiwamu yang terus menjadi-jadi. Sudahlah, lumpuhkanlah perasaanmu itu. Mulailah dengan sesosok bidadari lain, yang mungkin menunggumu disudut gelap sana.”
            Clang, cling, clung...
Bunyi-bunyian tak beraturan menyertai tenggelamnya suara itu. Aku tak bisa berkata-kata, perasaanku nampaknya berkonspirasi dengan sikon yang ada. Dor! Dentungan jantung mengagetkanku, ternyata aku telah melayang jauh ke alam imajinasiku yang tingkat tinggi. Ah, untung saja roh ku juga tak ikut bersama imajinasi yang kelewatan itu.
Malam kian hening, bulan bintang tetap saja temaniku tanpa sepatah kata, dan aku masih saja terbaring di atas lautan rerumputan. Mungkin mereka jengkel ada insan menggangu malamnya, namun ku lihat mereka cuek saja dengan bercumbu mesra terhempas hembusan angin seakan mengolok akan aku yang tak punya dermaga untuk berlabuh.
Tak sengaja ku rogohi saku, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Aku coba mengeluarkannya dengan lembut. Oh ternyata hanya sepucuk kertas yang tak bermakna tersimpan rapi di dalamnya.
“Kenapa? Kau takut rahasiamu terbongkar Mas’ud?”, tanyanya mengagetkanku.
“Maksudmu?”
“Tak usah kau imitasikan kebodohanmu itu! Kau terlalu banyak menyimpan rahasia yang seharusnya tak menjadi rahasia”, jawabnya sinis padaku.
“Hey!” Aku banting kertas itu dan ku ambil lagi sembari molototinya.
“Tahu apa kau tentang perasaanku? Kau dengan lantangnya menyeruku untuk membongkar rahasia ini, sedangkan kau tak melakukan apa-apa buatku. Kau hanya benda mati yang hanya bisa berkata-kata lewat tinta hitam yang ku torehkan”, lanjutku dengan nada gemetar.
“Ah, kau pintar sekali mencari alasan tuk menutupi kemunafikanmu Mas’ud. Padahal aku telah siap jadi sekutumu, tapi ternyata kau hanya seorang pecundang sampah!”
“Apa kau bilang pecundang?”
“Ya, kau pecundang Mas’ud.”
“Ah baiklah! Tapi begini wahai kau selembar kertas putih yang ku torehkan tinta kepecundanganku. Aku yang punya perasaan ini, kau tak pernah tau bagaimana perasaan yang begitu dalam sehingga hatiku jadi beku karenanya.”
“Hahahaha”, dia tertawa sembari mencoba memotong pembicaraanku.
“Diamlah dulu! Beri aku kesempatan menjawab, agar kau tak terus menghakimi atas kepecundanganku!”
Suasana menjadi semakin tegang dalam keheningan, rerumputan yang tengah asik bercumbu terhenti sejenak. Bulan Bintang yang acuh mulai tertarik akan aku. Mereka mulai menyimaknya dengan saksama. Hanya silir angin membentuk nada lirih bersama jangkrik melatunkan lagu romantis tuk ceritaku malam ini.
“Baiklah Mas’ud, teruskan!”, jawabnya sok bijak.
“Aku tidak bermaksud menyimpannya kian lama. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semua rahasia ini agar menjadi sebuah kisah indah yang tidak berakhir menjadi kisah fiktif belaka, bak Romeo dan Juliet”, lanjutku dengan penuh perasaan.
“Hmm...begitu ya? Maafkan aku Mas’ud, yang tak paham maksudmu dan hanya menghakimimu. Kini aku mengerti.” Sesalnya nampak serius.
“Tak apa. Asalkan kau mau jadi sekutuku lagi, tak lebih.”
“Dengan senang hati, tuanku Mas’ud.”
Clang, cling, clung...
Ternyata percakapan itu membuahkan hasil, cukup buatku bisa menarik secuil senyuman. Ya ini sebuah proses, aku harus membentuk senyawa baru dalam diri agar kuat mememerangi kepecundanganku. Aku kantongi lagi ia dengan lembut. Setelah surat di saku itu kembali menjadi sekutu lagi, bulan bintang nampak makin antusias mengikuti alur ceritaku, meski tetap saja tak bergumam. Pertanyaan yang pernah ku lontarkan, bulan masikah jadi bulan? Bintang masihkah jadi bintang? Nampaknya mulai tersiasati jawaban meski ambigu. Legitimasi hati kian jelas. Propaganda jiwa tak lagi dipertanyakan.
“Mas’ud! Kaukah itu?”
Muncul lagi sesosok suara, tapi ini nampaknya begitu nyata. Buktinya aku tidak lagi berada di alam bawah sadarku. Jantungku menderu begitu cepat, tak biasanya seperti ini. Lebih menyiksa tapi menyejukkan jiwa suara itu, seakan memercikkan neuron baru menggantikan yang telah padam. Lantas apa ini?
“Siapakah kau gerangan?”, tanyaku canggung.
“Nur Baiti. Kau kenal?”, jawabnya lembut.
“Nur Baiti? Jangan bercanda wahai suara yang begitu lembut kiranya. Tak mungkin itu kau, ini hanya imajinasiku yang kelewat batas saja kan? Tak mungkin sekejap kau datang dari dimensi yang berbeda, kemudian memberiku harapan semu.”
“Kenapa kau begitu munafik seakan aku orang baru dalam hidupmu? Ini benar aku Mas’ud, Baiti!”, terangnya.
“Bagaimana mungkin?”, aku masih bertanya seakan benar-benar tak percaya kalau itu benar-benar adalah dia.
“Bukalah matamu Mas’ud. Kemudian, lihatlah ini benar-benar aku. Bulan bintang berkoloni menghantarkan risaumu padaku. Membongkar rahasia yang kuat kau gemboki dengan kepecundanganmu.”
“Apa? Bulan bintang berkoloni menyampaikan risauku padamu? Kau sungguh berdusta. Ketika aku bersandar diatas lautan rerumputan, diselimuti udara malam menusuk, di bawah lautan langit gulita. Bulan bintang jelas tak pernah memperhatikanku, apalagi memanifestasikan sinarnya untukku. Sama sekali tak pernah!”, ucapku dengan bercucuran air mata.
“Kau begitu cengeng rupanya. Bukalah matamu Mas’ud!”
Ia begitu dekat, perlahan membelai rambutku, kemudian mengusap segelintir air mata yang tak tertahankan. Ku buka mataku, dan benar saja, ternyata wajahnya tidak berubah, masih saja begitu anggun dan begitu bersahaja, dialah Nur Baiti. Gadis yang selama ini ku kagumi.
“Ii…ini…ini…hanya halusinasiku saja. Apa ini benar kau?”, tanyaku tak percaya.
“Kau tak salah Mas’ud.”
“Bukannya kau telah mati? Apa kau mau menghantuiku Baiti? Atau kau mau membalas dendammu padaku? Aku tak bersalah atas kematianmu Baiti.”
“Kau tak usah mengelak Mas’ud. Bulan dan bintanglah yang memataimu dan bersekutu denganku. Aku ingin membalas dan kau bersalah!” dengan nada tersedu ia ucapkan itu.
“Ma…maksudmu?”
“Ya, aku ingin membalas cintamu yang begitu kuat kau jaga, dan kau bersalah karena masih saja memendam perasaanmu itu hingga sekarang aku berada di dimensi yang lain. Padahal aku telah lama menunggumu untuk mengucapkan itu.”
“Apa? Benarkah itu?”
“Ya, kau tak salah Mas’ud.”
“Andaikan aku tahu kalau kaupun memiliki rasa yang sama, tak ku biarkan si biadab itu memilikimu, dan merenggut nyawamu yang begitu berharga bagiku. Semuanya sudah terlambat untukku sesali.”
“Tidak ada yang perlu kau sesali Mas’ud. Yang harus kau lakukan hanyalah melupakanku dan mencari dermaga lain untuk kau berlabuh. Aku cukup tersiksa melihatmu terus mengenangku.”
“Tapi aku masih mencintaimu Baiti.”
“Tidak! Cintamu tak berhak lagi untukku. Kau dan aku telah berbeda Mas’ud.”
Entah kenapa, malam itu dipenuhi air mata. Pada hal tidak ada yang perlu ditangisi. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya agar aku dan Baiti tidak berbeda, dan bisa memadu kisah cinta meski tidak sesuai skenario yang aku rencanakan sejak awal. Terbesit sebuah bisikan licik, yang menyuruhku untuk mencopot belati yang selalu aku bawa. Aku memandang ke arah bulan dan bintang sebagai saksi, terlihat mereka mengusap air matanya dan seakan ingin menyuruhku agar tak melakukan tindakan bodoh, pada hal ini adalah tindakan jenius agar aku dan Baiti bisa bersatu. Ah, biarlah bulan tetap menjadi bulan, dan bintang tetap jadi bintang. Biarlah rerumputan menggerutu atas keputusanku.
“Baiti, belati inilah menjadi penyatu kita.”, ku ucapkan tanpa ragu. “Aku tak ingin menjadi Arjuna yang selalu mengembarakan cintanya. Aku tak ingin menjadi Habibie pengecut yang mengenang Ainun dengan kata-kata cengeng tentang cinta. Aku ingin kisah kita melebihi Romeo dan Juliet, menjadi kisah cinta sejati.”
Ku lihat Baiti tak berkutik, nampaknya dia tak mampu melarangku. Perlahan ku angkat belati itu, agar bulan dan bintang benar-benar menjadi saksi. Ku arahkan mata belati itu tepat jantung dan hatiku.
“Wahai kau bidadari indah! Inilah bukti cintaku.”, teriakku menggema.
Clang, cling, clung…
Belati itu benar-benar manjur. Ia telah menyatukanku dengan Nur Baiti, si gadis pujaan. Kisahku akhirnya menjadi kisah cinta sejati, dan orang tak akan mengenang Romeo dan Juiet ataupun Habibie dan Ainun lagi sebagai cermin cinta sejati, tetapi Mas’ud dan Baiti. Ya, tak ada yang mampu memisahkan. Tinggal Tuhanlah yang menjadi hakim penentu akhir cinta kami.




SINOPSIS

            Cerpen Tengah Malam ini menceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Mas’ud, yang kuat menggemboki rasa cintanya kepada seorang gadis yang bernama Nur Baiti. Tanpa ia ketahui, ternyata Baiti juga diam-diam menyukainya. Namun karena kepecundangannya itu Baiti telah di lamar oleh seorang Pria, itu yang membuat ia kehilangan dan sering berhalusinasi, atau dapat dikatakan stress. Apalagi setelah ia tahu Baiti telah meninggal gara-gara di Bunuh oleh calon suaminya, Mas’ud semakin merasa kehilangan, berhari-hari ia hanya duduk termenung di sebuah tebing di belakang rumahnya. Pada suatu ketika arwah Baiti datang menemuinya yang tengah menyesali kepecundangannya. Mas’ud awalnya tak percaya bahwa itu benar-benar Baiti gadis pujaanya, ia berpikir itu hanyalah imajinasinya berlebihan, namun ternyata itu benar-benar adalah Baiti. Setelah ia mengetahui itu benar-benar nyata, Mas’ud mengeluarkan belati yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, kemudian ia menusukkan belati itu ke arah jantung dan hatinya. Dengan maksud agar ia dan Baiti bisa memadu kasih meski di dimensi yang berbeda.
            Pada akhirnya, Mas’ud dan Baiti benar-benar bersatu, meski berbeda dengan skenario yang diinginkan Mas’ud selama ini. Kisah cinta Mas’ud dan Baiti akhirnya menjadi kisah cinta sejati, dan orang tak akan mengenang Romeo dan Juiet ataupun Habibie dan Ainun lagi sebagai cermin cinta sejati, tetapi Mas’ud dan Baiti. Ya, tak ada yang mampu memisahkan mereka. Tinggal Tuhanlah yang menjadi hakim penentu akhir cinta mereka.



BIODATA

Nama                                    : Adisan Jaya
Tempat, Tanggal lahir             : Bima, 27 Januari 1995
Alamat                                   : Jl. Raya Tlogomas Gang 11-C nomor 23
Kelas                                     : V-B
Jurusan                                   : Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
No. Hp                                  : 087759737444
Alamat e-mail                        : adisanjaya01@gmail.com


Selasa, 04 Februari 2014

Persembahan Nyawa Untuk Negeriku

Sewaktu aku masih kecil dulu aku selalu bertanya pada kakek bagaimana caranya menjadi pahlawan. Kakek selalu tersenyum setiap kali aku bertanya begitu. Mungkin dia berpikir Belanda dan Jepang sudah mendekam di Negara masing-masing untuk apa menjadi pahlawan, kecuali menjadi pahlawan kesiangan di negeri korupsi ini. Tapi ketika aku sudah mulai beranjak dewasa dan mulai mengenal susahnya kehidupan jawaban kakek tidak sama lagi seperti dulu.
“Kakek bagaimana caranya aku menjadi pahlawan? Tanyaku suatu ketika
“Benar kah kau ingin menjadi Pahlawan?” dia balik bertanya padaku, pandangannya tak lepas dari bambu yang diserutnya untuk dijadikan sangkar burung merpati.
“Ya” jawabku sambil terus menatapnya
“Kau cukup menjaga apa yang kau miliki itu sudah cukup untuk menjadi pahlawan” jawabnya kemudian sambil menatapku.
“aku tak mengerti maksudmu kek” ujarku kebingungan, wajar jika aku bingung karena pada saat itu aku masih berumur 13 tahun, baru saja lulus SD (sekolah dasar).
“Sekarang apa yang kau miliki?” Tanya kakek kemudian sambil menatapku
“Kau dan merpati itu”jawabku sambil menunjuk merpati yang digantung di tiang depan rumah.
“Berarti kau harus menjaga merpati itu dan aku” jawabnya sambil tersenyum.
“Apa itu dapat disebut pahlawan? Dan aku harus berperang dengan siapa? Tanyaku polos.
“Jika kau ingin menjadi pahlawan kau tidak harus berperang dengan penjajah atau siapa pun kau cukup menjaga apa yang kau miliki itu juga dapat disebut pahlawan” jawambnya dengan sabar sambil memencet hidungku penuh kasih sayang.
“Baiklah aku akan menjadi pahlawan bagimu dan merpati itu, jika ada yang mengganggu kalian maka mereka akan berhadapan denganku” ujarku dengan percaya diri menirukan percakapan sinetron TV yang sering aku lihat.
“Tapi aku ingin seperti pahlawan Cut Nyak Dien kek” ujarku kemudian. Kakek yang beranjak dari duduknya, kembali duduk di sampingku.
“berarti kau harus menjaga apapun yang ada di negeri ini, entah itu barang atau apa pun seluruh isi yang ada di negeri ini itu namanya pahlawan negeri, mengerti ? jawabnya sambil bertanya padaku”
“ya … aku mengerti” jawabku singkat, sambil berpikir tentang kakek satu-satunya orang yang aku miliki, berarti dia pahlawan bagiku dia telah menjagaku dan selalu berusaha membuatku bahagia.
“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke balai desa mempersiapkan okolan sekalian latihan untuk pertunjukan nanti malam, kau jaga rumah saja jangan kemna-mana. Kalau kau ingin bermain kunci pintu rumah” Ujar kakek kemudian pergi meninggalkanku ke balai desa untk mempersiapkan pertunjukan okolan nanti malam. Okolan adalah pertunjukan seni musik yang diadakan ketika selesai lomba adu merpati. Pertunjukan ini sebagai rasa syukur atas kemenangan lomba yang dilakukan antar desa. jika kalah pertunjukan ini tetap dilakukan dengan tujuan untuk lomba berikutnya bisa menang. Alat-alat musiknya diantaranya yang ku ketahui yaitu gamelan, beduk yang berukuran kecil, suling serta alat musik semacam drum tapi jumlahnya tidak sebanyak drum. Kakek sebagai penabuh beduk, dia sangat suka pertunjukan ini apalagi ketika desa ini memenangkan adu merpati ia dengan sangat semangat menabuh beduk. Pertunjukan ini termasuk pada seni musik tradisional hanya desa kami saja yang tahu akan kesenian ini. Desa kami terletak di daerah Jawa Timur tepatnya di kabupaten Probolinggo desa Kokonan.
 Kesenian ini juga diwarisi secara turun temurun oleh nenek moyang terdahulu tepatnya nenek moyang dari kakekku. Sekalipun ini sudah ada sejak zaman dulu aku tidak yakin pemerintah peduli terhadap kesenian ini, jangankan peduli tahu saja akan keberadaan kesenian ini itu sudah untung. Jadi jangan salahkan kami sebagai rakyat di negeri ini jika suatu ketika kesenian ini dimiliki oleh negara lain.
***
 Malam harinya penduduk ramai memenuhi balai desa, kulihat kakekku dari kejauhan begitu bersemangat menabuh beduk yang terbuat dari kulit itu. Ku perhatikan laki-laki di simpingku dari tadi sibuk megambil gambar. Sesekali dia melirikku sambil tersenyum. Apalagi ketika diiringi nyanyian oleh Pak Matrei, yang berwajah gelap seperti menyimpan misteri di balik wajahnya konon katanya dia memilki ilmu santet yang diturunkan dari ayahnya. Aku antara percaya dan tidak sebab ia tidak pernah bermacam-macam dengan keluargaku bahkan bisa dikatakan baik kepada keluargaku.
“Nirmala apa arti dari nyanyian yng dinyanyikan Pak Matrei ini” Tanya laki-laki yang mengambil gambar disampingku.
“Aku juga tidak begitu mengerti Rei .. ini bahasa jawa kromo inggil  jadi aku tidak mengerti” jawabku padanya, dia sangat menyukai segala sesuatu di desa ini. wajar jika ia menyukai tentang desa ini sebab ia pendatang dari Jakarta setahun yang lalu. Ia bernama Reihan Abdillah orang pertama yang mengajarkan arti cinta padaku, dia tidak pernah kurang ajar padaku. Ia sangat menyayangiku begitu juga aku sangat menyayanginya, aku rela memberikan apapun padanya asal tentang dua hal yang tidak dapat ku beri padanya, kakek dan kesucianku. Ia seagama denganku jadi aku tidak khawatir tentang perbedaan keyakinan di antara kami. Tentang hubungan kami semua orang di desa ini sudah mengetahuinya. Bagiku jika ditanya laki-laki sempurna adalah dia, dia sangat baik padaku dan kakek, pada tetanggaku pun dia baik. Dia tinggal sendirian di desa ini jarak tempat dia tinggal sedikit jauh denganku ia berada di RT 01 sedangkan aku di RT 07. Dia sering mengunjungiku di rumah. Yang aneh padanya bahasanya tidak seperti kebanyakan orang Jakarta lainnya, ia lebih mirip orang Malaysia. Ketika ku tanya tentang itu ia hanya tersenyum dan berkata bahwa waktu kecil ia pernah tinggal di Kalimantan yang dekat dengan Malaysia sampai ia lulus SD. Setelah itu aku tidak bertanya lagi yang terpenting dia adalah milikku dan tidak pernah menipu atau membohongiku. Sekarang umurku sudah 19 tahun. Aku lepas sekolah setelah SMP karena kakek tidak sanggup lagi membiayai sekolahku, mengingat pekerjaanya sebagai penggali batu di sungai yang penghasilannya tidak seberapa tapi dia tetap selalu berusaha memenuhi kebutuhannku. Dia menjadi pengganti kedua orang tuaku yang meninggal karena kecelakaan ketika aku masih berumur dua tahun, sedangkan nenekku meninggal baru 5 tahun yang lalu.
 “Nirmala … sungguh kau tak tahu arti nyanyian itu? Tanya Rei lagi seakan-akan tidak percaya dengan jawabanku.
“Apa aku terlihat seperti orang berbohong pada mu Rei? Jawabku kemudian sambil menatapnya.”Lalu untuk apa kau bertanya tentang arti lagu itu?” tanyaku lagi, heran.
“Aku hanya ingin tahu saja Nirmala, tak bolehkah ? Dia balik bertanya padaku.
“Oh .. tidak mengapa nanti ku tanyakan pada kakek, ia pasti tahu artinya karena dia memiliki catatan dan arti dari lagu ini” jawabku kemudian. Ku lihat dia tersenyum seakan-akan telah mencapai keinginan yang selama ini didamba-damba.
“Terima kasih ya sayang “ ucapnya sambil mencubit pipiku.
Setelah pertunjukan okolan selesai ia mengantarku pulang dengan motornya. Sebelum ia puang ia masih duduk di depan teras menunggu sampai kakekku pulang baru ia pulang. Ketika akan masuk ke dalam rumah ku lihat tas hitam di atas kursi tempat yang tadi diduduki Rei . kubawa tas itu ke dalam rumah. Dasar kau pelupa, ujarku dalam hati. Ku bawa tas itu ke kamar lalu kubuka, kulihat semua yang ada di dalamnya. Sungguh aku kaget melihat apa isi tas itu, aku hampir mati berdiri. Hari ini dunia tidak berpihak padaku.
***
Pagi-pagi sekali Rei datang ke rumahku. Ekspresi wajahnya biasa saja seakan-akan semuanya baik-baik saja, dengan wajah dingin aku menemui Rei.
“Kau berbohong padaku” ucapku tanpa menyuruh ia duduk.
“Aku berbohong apa padamu Nirmala?” tanyanya sedikit kaget.
“Jelaskan padaku apa tujuanmu di desa ini Salim !” Ucapku dingin. Rei Kaget mendengar aku menyebut nama aslinya.
“Tujuanku adalah kamu” jawabnya tanpa melihat wajahku.
“Hemh, dalam keadaan seperti ini pun kau masih berbohong padaku” ujarku sambil mendengus.
“Aku tidak berbohong padamu” jawabnya lemah sambil tertunduk lalu kemudian melirikku,
“Apa kau mencintaiku ?” Tanyaku lirih.
“Ya” jawabnya hampir tidak terdengar.
“Apa kau mencintaiku?” tanyaku lagi dengan intonasi lebih tinggi.
“Aku sangat mencintaimu Nirmala” jawabnya sambil menatapku tajam.
“APA KAU MENCINTAIKU ?!” Tanyaku dengan berteriak, orang yang lewat di depan rumah menatap kami heran, mungkin mereka mengira ini masalah percintaan biasa, tapi tidak ini masalah yang sangat serius. Masalah ini bukan hanya tentang aku dan laki-laki di depanku ini, tapi juga dengan negeriku ini.
“DEMI IBU YANG MELAHIRKANKU DAN ALLAH YANG MENCIPTAKANKU AKU MENCINTAIMU NIRMALA !!”
“LALU APA GUNANYA SEMUA INI, BISAKAH KAU JELASKAN PADAKU BAHWA SEMUA INI BOHONG !! Teriakku sambil melempar kertas-kertas yang ku keluarkan dari tasnya yang tertinggal di rumah semalam, kertas-kertas itu terlempar tepat ke arah mukanya. Ia kaget melihat kertas-kertas berisi syarat-syarat pengakuan kesenian UNESCO, data-data tentang kesenian okolan yang ia tulis, serta KTP asli miliknya. “Kau tidak mencintaiku, kau hanya menginginkan sesuatu dariku” ucapku sinis padanya.
“Aku mencintaimu Nirmala” ucapnya, smbil menatapku.
 “Kalau kau mencintaiku, tinggallah di sini bersamaku dan jangan pernah kembali lagi ke negaramu.”
“Tapi aku juga mencintai negaraku Nirmala”
“Persetan dengan negaramu” Ucapku sinis sambil mentapnya tajam.
“Tinggallah bersamaku di negaraku, kau akan hidup bahagia Nirmala” ucapnya sambil memegang tanganku.
“Lupakan semua tentang kita”
“Kau serakah Nirmala, negaramu memiliki berjuta-juta kesenian. Setiap daerah yang ada di sini memiliki kesenian adat dan istiadat berbeda. Jadi jika aku hanya mengambilnya satu saja itu tidak akan berarti apa-apa bagi negaramu” ujarnya datar padaku.
“Kau yang serakah! Tidak cukupkah kau dan negaramu mengambil Ambalat dari kami ?! tarian tor-tor kalian akui menjadi milik kalian. Batik hampir kalian ambil jika kami tidak bertindak, lalu siapakah yang serakah negaraku atau negaramu?!” balasku berapi-api.
“Aku akan menggantinya dengan uang Nirmala, aku bukan hanya sekedar mengambil saja”. pernyataannya mengagetkanku.
“Uang katamu ! kau pikir kau siapa bisa mengambil seenaknya saja. kau pikir kami penjual hah !? ucapku sambil menunjuk-nunjuk mukanya dengan geram, terang saja dia kaget selama mengenalku dia tidak pernah melihatku semarah ini, dia hanya mengenalku dengan sosok gadis yang lembut, tidak pernah marah wajar jika dia sangat mencintaiku.
“Kau pikirkan baik-baik apa negaramu peduli dengan okolan  yang kalian miliki, apa mereka pernah berniat untuk menjaga dan melestarikannya, tidak Nirmala tidak ! bahkan mereka tidak peduli  dengan kesenian itu. Apa gunanya kau mempertahankan sedangkan si Empunya sendiri tak tahu dengan apa yang mereka miliki” kali intonasi Salim lebih tinggi.
“Aku tidak peduli mereka tahu atau tidak, aku hanya ingin menjaga apa yang ku miliki dan tidak akan pernah membaginya dengan negaramu” ucapku datar, kali ini intonasi suaraku lemah. Terbesit dalam pikiranku membenarkan perkataan Salim, ya pemerintah tidak peduli akan semua ini jadi apa gunanya aku bertahan sendiri sedangkan si empunya tidak tahu menahu. Tapi perasaan benciku terhadap Malaysia sudah tidak dapat dibendung lagi apapun alasannya aku tidak akan pernah berniat untuk membagi apa yang dimiliki negara ini dengan mereka.
“Pikirkan baik-baik Nirmala” ucap Salim kemudian merangkul bahuku.
“Salim negaraku adalah Negara hukum. Pemalsuan nama dan berusaha mengambil apa yang dimiliki negara ini akan berurusan dengan polisi. Jadi sebelum aku berniat untuk melaporkanmu pada pihak yang berwajib segera pergilah dari hadapanku” ucapku lemah pada Salim. Air mataku hampir tumpah jika aku tidak menahannya. Sebenarnya aku ingin dia di sini siapapun dia dan dari manapun  dia, karena aku sangat menyayanginya. “Pergilah Salim dan jangan pernah kembali lagi” suruhku sambil mendorongnya keluar ke halaman rumah.
 “Apa di antara kita hanya aku yang mencintaimu, tidak kah kau mencintaiku juga Nirmala?”
Tanya salim sambil memegang pundakku dan menatap wajahku dalam-dalam.
“Tidak” jawabku pendek dan membuang muka.
“Baiklah katakan pada kakekkmu suruh orang di desa ini berkumpul dan hakimi aku, aku tidak peduli karena semua ini salahku” ucapnya ada nada kekecewaan di sana. Lalu dia pergi
***
Malam harinya semua orang berkumpul, termasuk Pak Matrei, kakekku juga di sana tanpa Pak kepala desa musyawarah ini berjalan dengan sendirinya, entah kemana Pak kepala desa itu kami tidak tahu. Aku tak tahu bagaimana nanti jadinya, arsip-arsip tentang lagu kromo inggil yang dinyanyikan oleh Pak Materi semua ada di kakekku, arsip itu hanya berupa lembaran kertas yang ditulis dalam huruf jawa, dan diturunkan secara turun temurun oleh keluarga ini. warnanya sudah kuning kecoklatan dan tulisannya juga hampir pudar. Aku khawatir kakek dipaksa oleh orang-orang untuk menyetujui permintaan Salim. Tapi aku sudah mewanti-wanti pada kakek untuk tidak tergoda dengan iming-iming uang yang akan diberikan Salim.
“Baiklah akan saya beritahu tujuanku di desa ini, selain Nirmala…” Salim melirikku sebentar lalu melanjutkan perkataannya lagi. “ Aku berasal dari Malaysia nama asliku adalah Salim dan mengadakan penelitian tentang kesenian di desa yang nantinya akan mendapat pengakuan dari dunia. Jika kalian setuju dengan apa yang aku ajukan, aku akan memberi imbalan uang senilai 20 juta sebagai gantinya” ucap Salim kemudian tertunduk.
“Wah .. 20 juta lumayan nanti kita bagi bersama kelompok okolan” sambut Pak Matrei spontan yang membuatku kaget. Sekali lagi Salim melirikku dengan ekspresi datar.
“Ya .. aku juga setuju” sahut salah seorang dari kelompok okolan yang disambut dengan anggukan oleh yang lain.
“Aku tidak setuju, bagaimanapun okolan adalah milik negara yang tidak dapat ditukar dengan uang” belaku. Semua orang menatapku dengan heran sekaligus kaget.
“Apa maksudmu Nirmala, uang 20 juta berapa tahun dan berapa truk batu yang akan dikumpulkan kakekkmu untuk mengumpulkan uang sebanyak itu” ucap Pak Matrei sambil menatapku tajam ke arahku.
“Malaysia sudah mengambil Ambalat apa kalian tidak marah pada mereka?!” tanyaku kemudian.
“Heh Nirmala itu bukan tugas kita menjaga Negara ini, lagian pemerintah juga tidak peduli dengan kita. Kau lihat Sarmili warga desa sebelah mati gara-gara kelaparan, lalu apa kau lihat pemerintah menangani kelaparan di desa sebelah. Entah siapa yang akan mati minggu ini karena kelaparan, kau tidak usah muluk-muluk dalam hidup ini, kasian kakekmu yang sudah tua seharusnya kau berpikir jernih tentang kehidupan selanjutnya. Bukan menjadi pahlawan di siang bolong seperti ini”. kali ini pak Matrei berkata mengenai ulu hati. Perkataannya memang benar tidak ada yang peduli dengan kami. Yang mereka butuhkan adalah uang hanya untuk bertahan hidup. Jika mereka hidup mewah seperti pejabat yang hidup dengan uang korupsi. Mungkin mereka akan bisa berpikir untuk menjaga apa yang dimiliki Negara ini. wajar saja jika mereka begitu.
“Sekarang terserah Pak Rawi, sebagai keturunan pemilik okolan dan kami harap Pak Rawi bisa menerima permintaan nak Salim.” Ucap salah seorang anggota okolan menyebutkan nama kakekku.
“Keturunannku adalah Nirmala jadi tindakan Nirmala tadi adalah jawabanku” jawab kakek tenang. Semua mata menatap kami yang duduk bersebelahan. Aku tahu mereka geram dengan tindakan kami. Musyarah ini selesai pada jam setengah dua belas malam yang di mulai sejak habis magrib, dengan beberapa perdebatan yang menerkam aku dan kakek. Ketika akan pulang Pak Matrei menghampiriku yang sedang bersama Salim akan pulang ke rumah, meskipun hubunganku dan Salim sedang tidak baik tapi tidak dapat dipungkiri kami saling menyayangi dan tidak tahu bagaimana nanti jadinya pisah atau tetap bersama dengan masalah yang rumit ini melibatkan misi Negara masing-masing.
“Aku tidak pernah berniat untuk melukai siapapun Nirmala, jadi sebelum aku berbuat sesuatu padamu pikirkan baik-baik tentang permintaan Salim.” Ucapnya datar tanpa melihatku.
“Apa yang akan kau perbuat pada cucuku?” Tanya kakek dari arah belakang kami.
“Kau tidak usah membelanya dan jangan kau pungkiri bahwa kau juga membutuhkan uang itu” ucap Pak Matrei pada kakek sinis.
“Nirmala jangan pedulikan ucapannya pulanglah sudah larut malam” perintah kakek. Aku dan Salim pun pergi meninggalkan kakek dan Pak Matrei, di tengah perjalanan Salim bertanya.
“Sepertinya Pak Matrei ingin melukaimu Nirmala?” ucapnya sambil menatapku.
“Ya mungkin dia akan menyantetku jika aku tidak menuruti kemauanmu” jawabku sambil menghentikan langkahku, lalu menatap Salim dalam-dalam.
“Apa dia sekejam itu?” Tanyanya lagi.
“ya “ jawabku pendek.
“Nirmala maafkanku membuat hidupmu rumit.” Ucap Salim sambil memelukku.
“Bukankah ini yang kau mau Salim, ketika aku mati nanti kau bisa leluasa mengambil segala sesuatu yang kau mau di negeri ini” ucapku lirih, air mataku menetes tak dapat dibendung lagi. Salim menghapus air mataku lalu memelukku lagi.
***
Pagi-pagi sehabis sholat subuh aku membuka jendela kamar agar udara di dalam tidak pengap. Namun aku hampir mati berdiri pada saat itu.
“Arrrgggghhhhh ….!!!” Aku menjerit ketakutan melihat bangkai ayam penuh darah tergantum di luar jendela. Kakek menghampiriku dia kaget namun sejurus kemudian dia mebuang bangkai ayam yang tergantung di luar jendela kamarku. Ini pertanda bahwa kematian mengancamku.
“Tenang nak ..” ucap kakekku sambil memelukku yang masih ketakutan. Lalu kemudian dia pergi keluar rumah. Aku tahu dia menuju ke rumah Pak Matrei siapa lagi di desa yang berprilaku aneh selain dia. Beberapa saat setelah kakek pergi Salim datang. Aku menceritakan perihal bangkai ayam itu, dia kaget ketika kujelaskan apa arti dari teror itu. Dia berkali-kali meminta maaf padaku.
***
Malam itu malam jumat manis, entah kenapa aku tidak bisa tidur. Lalu ku buka jendela kamarku, ada banyangan orang berjalan merinding bulu kudukku. Apalagi di desa ini terutama di RT ku masih percaya dengan ilmu hitam, antar percaya dan tidak tapi beberapa kenyataan di sekelilingku banyak orang mati yang tidak diketahui penyakitnya apa, dan anehnya lagi mereka mengeluarkan paku, jarum dan jenis besi lainnya dari mulut mereka. kenyataan itu memaksaku untuk percaya. Srek.. srek terdengar orang mengorek-ngorek tanah di samping luar jendela kamarku, ku longokkan kepalaku sedikit keluar alangkah kagetnya ku lihat Pak Matrei bertelanjang bulat sambil menggali tanah di luar jendala, dia tidak melihatku lalu aku langsung lari ke ranjang menutupi tubuhku dengan selimut. Aku gemetar seumur hidupku aku belum pernah melihat orang yang bertelanjang bulat seperti itu. Benar ternyata ilmu pelet itu nyata.  
***
Paginya kakek menggali tanah bekas galian Pak Matrei yang sudah tertutup rata. Tidak ditemukan apa-apa di sana. Entahlah aku bingung sendiri. Akhirnya beberapa minggu kemudian aku sakit panas kadang aku kedinginan. Salim sibuk merawatku sedangkan kakek kebingungan takut terjadi apa-apa denganku dia jarang tidur malam menungguiku sampai aku tertidur.
Akhirnya pada suatu malam Pak Matrei menjengukku, ku lihat raut wajah kakek tidak bersahabat atas kedatangan Pak Matrei.
“Nirmala kalau kau mau menerima tawaran Salim aku akan membantu menyembuhkanmu” ucapnya datar, pada saat itu aku sudah sakit parah tubuhku yang dulunya ramping, berkulit kuning langsat, sekarang hanya tinggal tulang kurus sekali, kulitku pucat tak seindah dulu. Wajahku yang biasanya tampak manis jika dilihat sekarang pucat pasi seperti mayat hidup.
“Jika aku harus mati pun aku tak kan menyetujui permintaan Salim” ucapku tegas.
“Kau keras kepala sama seperti kakekmu” ucapnya dengan nada sinis, sambil melirik kakekku.
“Kau apakan Nirmala Matrei?.” Tanya kakekku tajam pada laki-laki berwajah gelap di depanku ini.
“Hahahaha kau selalu menuduhku yang bukan-bukan” Jawabnya lalu pergi.
“KALAU SAMPAI TERJADI APA-APA DENGAN NIRMALA AKAN KU CONGKEL MATAMU !! Teriak kakekku murka. Matrei hanya tertawa mendengar teriakan kakekku. Salim yang kebetulan ada di sini tertunduk lesu, sepertinya dia merasa bersalah atas sakitku.
“Salim tidak bisakah kau berhenti untuk meneliti tentang okolan ? lihatlah karena ulahmu Nirmala sakit parah.” Ucap kakek dengan nada kesal. Salim hanya terdiam membisu.
***
Paginya aku langsung mengigil sesekali aku berteriak karena sakit di bagian perutku, terkadang pusing menyerang kepalaku dan tak terhingga sakitnya. Minggu lalu aku dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang hanya sakit biasa, tapi ketika memeriksa perutku yang mengeras seperti batu dokter bilang belum diketahui jenis penyakitnya. Akhirnya uang persediaan kakek untukku pun sudah habis, kakek tidak mampu mengobatiku lagi atau hanya sekedar periksa lagi ke dokter.
“Nirmala ini uang untukmu berobatlah ke dokter agar kau sembuh” ucap Salim sambil memberikan sepuluh lembar uang lima puluh ribuan.
“Tidak Salim” jawabku pendek.
“Uang ini tidak ada sangkut pautnya dengan okolan itu, ini dariku sebagai orang yang menyayangimu.” Ucapnya meyakinkanku. Aku tidak menjawab juga tidak mengambil uang pemberian Salim.
“Salim jika aku mati apa kau akan tetap di sini?” tanyaku lemah, Salim kaget dengan pertanyaanku.
“Maksudmu apa?” Tanyanya seraya memegang tanganku.
“Sakitku sudah parah, jangankan berjalan berdiri saja aku sudah tidak kuat” ucapku lagi.
“Kau tidak boleh mati, aku akan merawatmu sampai kau sembuh lalu kita akan menikah dan hidup bahagia.” Salim menangis, untuk pertama kalinya ku lihat ia menangis.
“Lalu bagaimana dengan penelitianmu tentang okolan itu? Tanyaku sambil menatapnya.
“Entahlah Nirmala sepertinya aku tak sanggup lagi melihatmu seperti ini, semua ini karena aku, semua ini salahku” jwabnya terbata-bata sambil menangis sesenggukan, ia menciumi tanganku.
“Salim apakah kau menyayangiku?” tanyaku sambil tersenyum padanya.
“Kenapa kau selalu bertanya begitu padaku? Apa karena aku sempat membohongimu kau meragukan cintaku?” Tanya Salim balik. “Sungguh aku sangat takut kehilanganmu Nirmala, aku mohon jangan pergi temani aku Nirmala aku membutuhkanmu dalam hidup ini.” Ucapnya sambil terus menangis.
“Tolong kau jaga kakekku Salim, jika kau sudah pergi dari Negara ini, tengoklah dia sesekali” pintaku pada Salim, Salim hanya tertunduk. “Salim …” panggilku. Salim menatapku lalu mendekapku. “Salim aku mencintaimu “ Ucapku pelan, Salim tambah erat memelukku.
“Nirmala aku mohon bertahanlah” Salim membopongku hendak membawaku ke rumah sakit, air matanya menetes ke pipiku.
“Salim berhentilah tidak ada gunanya kau membawaku ke dokter semuanya akan sia-sia” Pintaku. Salim kemudian berhenti ketika sudah sampai di halaman rumah, kakek mengikuti kami dari belakang, sekilas ku lihat ia menangis.
“Salim … jika aku mati aku ingin mati dalam kebaikan, Selain Tuhan yang menciptakanku dan orang tua yang melahirkanku, di dunia ini kau dan kakeklah yang aku sayangi, jadi jika aku mati aku berharap kau menjaga kakek untukku” ucapku pelan setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Sekilas ku dengar jeritan kakek dan Salim memanggil-manggil namaku.